Dalam arus besar modernitas, istilah santri tidak lagi terbatas pada mereka yang tinggal di pesantren. Santri adalah mereka yang hidup dengan nilai-nilai keilmuan, adab, spiritualitas, dan dedikasi pada masyarakat. Salah satu figur yang mencerminkan santri masa kini adalah Neng Daris Salamah Elmi Putri Sibron, putri pertama dari lima bersaudara, buah hati dari Bu Nyai Mimin, pengurus PCINU Malaysia yang dikenal peduli pendidikan dan dakwah.
Meski Neng Daris tidak pernah mondok di pesantren, jiwanya dibentuk oleh tradisi keilmuan pesantren yang kuat dalam keluarganya. Ia tumbuh dari rumah yang dipenuhi semangat mengaji, berdiskusi, belajar, dan menuntut ilmu—sebuah atmosfer yang tidak kalah kaya dari lembaga pendidikan formal mana pun.
Didikan orang tuanya yang merupakan lulusan pesantren membuat lingkungan rumah menjadi ruang belajar yang hidup. Nilai religius, adab, dan kedisiplinan ditanamkan sejak kecil.
Orang tua beliau menanamkan satu pesan utama:
“Pendidikan adalah prioritas, dan Allah akan memudahkan jalan bagi mereka yang sungguh-sungguh.”
Pesan itu begitu kuat melekat pada diri Neng Daris. Maka setelah lulus SMA, tanpa menunda waktu, ia langsung berburu peluang beasiswa ke luar negeri. Tekadnya tidak main-main—ia memilih kota Budapest, Hongaria, salah satu pusat pendidikan terbaik di Eropa Tengah.
Keberaniannya mengambil langkah besar itu membuktikan bahwa nilai santri tak selalu lahir dari pesantren, tapi dari keluarga yang menanamkan cinta ilmu dan akhlak.
Menembus Dunia Akademik Internasional di Budapest, Eropa
Perjalanan pendidikannya di Budapest bukan sekadar perjalanan akademik, tetapi juga perjalanan mental dan spiritual. Menjadi mahasiswa di negara yang umat Islamnya minoritas bukan hal mudah. Namun Neng Daris menjalaninya dengan tenang, mantap, dan penuh integritas.
Di sana ia belajar untuk:
- beradaptasi dengan budaya yang sangat berbeda,
- menjaga identitas keislaman tanpa kehilangan rasa hormat pada keberagaman,
- membuktikan bahwa Muslimah Indonesia mampu bersaing di kancah global.
Perjuangannya dari jenjang sarjana hingga S3 di Eötvös Loránd University, salah satu universitas tertua dan terbaik di Eropa, menjadi bukti bahwa ketekunan akan membawa seseorang jauh lebih tinggi dari yang dibayangkan.
Bekal Tiga Pilar: Yakin, Usaha, dan Restu Orang Tua
Kesuksesannya ditopang oleh tiga fondasi utama:
- Yakin
Keyakinan bahwa Allah selalu membuka jalan bagi hamba yang menuntut ilmu menjadi bahan bakar perjuangannya. Keyakinan ini membuatnya tetap teguh ketika menghadapi rindu rumah, perbedaan budaya, atau tekanan akademik.
- Usaha
Beliau bekerja keras, belajar disiplin, dan mengelola waktu secara matang. Setiap tugas, riset, maupun proses akademik ia hadapi dengan kesungguhan penuh.
- Restu Orang Tua
Doa orang tua menjadi kekuatan spiritual yang melekat di setiap langkahnya. Ia meyakini bahwa restu orang tua adalah ridha Allah.
Mindfulness, Executive Function, dan Determination: Kunci Bertahan di Negeri Minoritas Muslim
Hidup di negara dengan minoritas Muslim menuntut stabilitas mental yang kuat. Di sinilah peran konsep mindfulness dan executive function yang ia terapkan setiap hari.
Mindfulness
Membantunya tetap sadar, tenang, dan fokus dalam menghadapi tekanan akademik maupun social shock. Ia membiasakan diri untuk: mengatur napas sebelum belajar, membangun kesadaran diri ketika stres, mengelola emosi saat menghadapi kesulitan bahasa atau lingkungan baru.
Executive Function
Meliputi kemampuan mengatur diri, fokus, dan membuat keputusan. Ini memungkinkannya bertahan di tengah tantangan:
- Inhibitory control: menahan distraksi dan tetap fokus pada tujuan akademik
- Working memory: menjaga ingatan tujuan jangka panjang di tengah rutinitas padat
- Cognitive flexibility: beradaptasi dengan budaya dan cara berpikir Eropa
Determination (Ketekunan)
Inilah karakter utamanya—tidak mudah menyerah.
Determination membuatnya tetap bangkit ketika menghadapi kesulitan bahasa, kesepian sebagai minoritas, atau tekanan studi doktoral yang tidak ringan.
Dari Rumah Mengaji ke Eropa, dari Ilmu ke Pengabdian
Perjalanan pendidikan Neng Daris Salamah Elmi Putri Sibron memberi pesan penting bagi generasi muda Indonesia:
Bahwa kesuksesan tidak lahir dari fasilitas mewah,
tetapi dari keyakinan, kerja keras, restu orang tua, serta kemampuan mengelola diri.
Bahwa menjadi santri tidak hanya tentang tinggal di pesantren,
tetapi tentang membawa nilai-nilai Islam—ilmu, adab, keberanian, dan ketekunan—ke mana pun kaki melangkah.
Dan bahwa seorang anak bangsa bisa berdiri tegak di panggung global
tanpa kehilangan akar, jati diri, dan dedikasinya pada negeri.