MALANG – Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) menghadirkan peluang baru dalam dunia pendidikan. Tidak hanya menjadi teknologi pendukung, AI juga mulai membuka ruang bagi pendidik untuk merancang pembelajaran yang lebih terarah sesuai kebutuhan kelas, kurikulum, dan kemampuan siswa. Semangat inilah yang menjadi bagian dari kegiatan “Pembelajaran Matematika Bantuan AI dan Dasar Penerapan Agen AI dalam Pembelajaran” yang digelar SMP Islam Sabilurrosyad pada 25 September 2026.
Kegiatan tersebut menghadirkan Agus Nurul Ilmi Badrud Dhujjah, S.Pd. sebagai pemateri. Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan wawasan mengenai kondisi dan perkembangan perangkat AI yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran matematika sekaligus memahami dasar penerapan agen AI dalam proses pendidikan.
Pembahasan diawali dengan melihat kondisi pembelajaran matematika dan perangkat AI yang dapat digunakan untuk mendukung proses belajar. Peserta diajak memahami logika dasar pembelajaran serta model pembelajaran konvensional yang selama ini banyak berpusat pada guru. Perkembangan teknologi kemudian memberikan alternatif berupa pemanfaatan perangkat AI sebagai bagian dari dukungan terhadap proses pembelajaran.
Salah satu materi yang menjadi bagian penting dalam kegiatan adalah pengenalan peta perangkat AI. Beberapa perangkat yang dibahas meliputi ChatGPT, Gemini, DeepSeek, Claude, dan Dala (Curio).
Pengenalan berbagai perangkat tersebut memberikan gambaran kepada peserta mengenai beragam pilihan teknologi AI yang dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan. Dalam pembelajaran matematika, pemanfaatan perangkat AI juga perlu ditempatkan dalam konteks tujuan pembelajaran agar teknologi tidak sekadar digunakan, tetapi benar-benar mendukung proses belajar.
Tidak berhenti pada pengenalan perangkat, kegiatan juga membahas dasar teori penerapan agen AI dalam pembelajaran. Materi mencakup pemahaman inti mengenai agen AI, komponen-komponennya, penerapan, platform yang dapat digunakan, penyusunan prompt, hingga aspek etika dan mitigasi risiko.
Pembahasan kemudian mengarah pada pemanfaatan Claude dan Gemini serta pola penggunaannya dalam pembelajaran. Peserta diperkenalkan pada pengaturan prompt menggunakan pola rumus PTKB + format sebagai bagian dari penyusunan instruksi yang lebih terarah kepada AI.
Dalam penerapannya, prompt tidak berdiri sendiri. Terdapat sejumlah unsur yang perlu diperhatikan, mulai dari peran, tujuan, konteks, batasan, hingga format keluaran. Konteks pembelajaran juga perlu disesuaikan dengan kondisi kelas, kurikulum, dan kemampuan siswa.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam pembelajaran membutuhkan perencanaan. AI tidak hanya diposisikan sebagai alat untuk menghasilkan jawaban, tetapi dapat diarahkan melalui instruksi yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.
Melalui kegiatan ini, Spesga terus membuka ruang pengembangan wawasan terhadap teknologi yang berkembang dalam dunia pendidikan. Pemahaman mengenai AI, agen AI, perangkat yang tersedia, penyusunan prompt, hingga aspek etika dan mitigasi risiko menjadi bagian penting dalam membangun pemanfaatan teknologi yang lebih terarah.
Kegiatan “Pembelajaran Matematika Bantuan AI dan Dasar Penerapan Agen AI dalam Pembelajaran” pada akhirnya menjadi ruang belajar untuk memahami bahwa inovasi teknologi dalam pendidikan tetap membutuhkan tujuan, konteks, dan batasan yang jelas. Dengan demikian, pemanfaatan AI dapat diarahkan untuk mendukung proses pembelajaran sesuai kebutuhan siswa dan tuntutan pendidikan yang terus berkembang.